bukan lakilaki berlimang harta
yang memujaku dengan harta
, mobilnya , fashionnya , kedudukan keluarganya atau ketenarannya
bukan
lakilaki tipe perayu dengan mulut manis dan lidah berbisa bagai ular
bukan
lakilaki lembek dengan tangis mautnya peluluh hati
bukan lakilaki
terlalu alim yang munafik untuk menjalin sebuah makna bpercintaan
bukan
dan bukan pula lakilaki yang terusterusan mengikuti egoku agar aku
senang
bukan dan sangat bukan lakilaki yg selalu memanjakan aku
dan selalu mengalah agar melihat tawa di wajahku
bukan lakilaki
sok jantan mengandalkan ototnya untuk membela dan melindungiku
bukan
lagi yaTUHAN lakilaki otoriter nan arogan
cukup
aku
bukan memeilih kekasih sebagai pertanda status atau sebagai boneka yg
kubawa kemanamana
bukan lakilaki tenar dengan sejuta kawan untuk
menunjukan eksistensinya
bukan lakilaki gagah tampan yang membuat
mata wanita iri memandangku
berfikir realistis dan tak
munafik
semua wanita tentu ingin lakilkai tampan , kaya , setia ,
baik , dan ahhhh bla bla bla dg kriteria sejuta kebaikan lainnya
guys
, kita hdup bukan di negeri barbie
sadar itu
aku
ingin cukup lakilaki yg mampu dan bisa menjadi IMAM
untuk masa
depanku
hanya itu
bukankah tujuan kita hanya surga ?
Tuhan
menciptakan kita berpasangpasangan
tentu , kekurangan kita di
tutupi dg kelebihannya dan sebaliknya
jangan mentuhankan keegoisan
kalian untuk cari lakilaki yg sangat sempurna
karna tak mungkinn
dan tak kunjung selesai
tak perlu kita jadi pemuja
pria
tak perlu kita terburuburu memlih pria
tak perlu
gelisah tak kunjung memiliki pria haha
ada saatnya semuaa
trust
me
:)
Senin, 25 Februari 2013
Selamat menempuh hidup baru mantan kekasihku :') #just flasback
Inget kan waktu aku sakit terus kamu jenguk kerumah dan bawain
es krim? Ibu ngomel-ngomel “Wong lagi sakit kok dibawain es krim”
hihi... padahal kan aku yang minta dibawain es krim sama kamu, eh malah
jadi kamu yang dimarahin.
Inget juga kan waktu aku sok-sokan bereksperimen di dapur bikin resep baru dengan cara modifikasi es krim, buah strawberry, roti tawar, dan segala macem bahan gak jelas? Dapur rumah kamu berantakan. Tapi hasil eksperimenku kamu bilang enak!
Heem… Aku curiga. Kamu jujur atau cuma nyenengin aku ya? Hehehe…
Inget juga nggak waktu aku ngambek, jurus terampuh kamu adalah peluk aku dari belakang terus ngasih es krim vanilla kesukaan aku? Sambil bilang, “Nih liat, es krim vanilla kayak gini aja manis banget kalo dimakan. Masa kamu kalah manis sih? Cemberut ngambek gitu. Jelek ah!”
Duuuuh….. Gimana aku gak luluh coba. Saat itu aku cuma bisa cubit dan pukul kamu. Uuuuh…sebel! Tapi entah kenapa rasa sayang dan cintaku terus bertambah.
Ohya, inget nggak waktu motor kamu mogok pas jemput aku pulang sekolah? Aku kesel, bĂȘte, sebel campur aduk jadi satu. Gimana nggak kesel coba, udah siang hari bolong, panas-panas, motor mogok dan aku suruh dorong juga gitu??
Kamu dengan sabarnya bilang, “Yaudah sayang kamu tunggu di warung itu. Beli es krim vanilla ya biar ademan dikit, biar ngomelnya ilang juga. Biar aku yang dorong motor cari bengkel nanti aku jemput lagi disini”
Aku nurutin perkataan kamu, walaupun bete.
Inget kan waktu kita liburan ke Pulau Seribu.
Kita duduk berdua menikmati senja ditepi pantai, kamu genggam tangan aku, menatap mataku lalu bilang, “Aku harap kamu sabar nunggu aku mapan dan ngelamar kamu. Aku janji secepatnya bakal balik ke Jakarta dengan kerjaan yang bagus, ngelamar kamu dan nikah. Luar kota ga seberapa jauh dibanding luar negeri. Aku janji.”
Aku cuma bisa tersenyum kecil dan mengangguk. Kamu cium kening aku dan tanpa kamu tahu airmataku menetes karena nggak rela ngelepas kamu pergi.
Sekarang, aku ada disini.
Di depanmu.
Bukan untuk tersenyum bahagia mengucapkan ‘janji bahagia’ sehidup semati.
Tapi untuk tersenyum pahit mengucapkan ‘selamat berbahagia’ untuk dirimu dan juga istrimu.
Ya. Istrimu.
Dia.
Wanita lain yang baru kau kenal satu bulan, yang tentu saja bukan diriku.
Karena kini, tak ada lagi KITA seperti dulu.
Ingin rasanya aku cepat-cepat pergi dari tempat itu. Berusaha pergi tanpa derai airmata lagi. Menghapus kenangan akan janjimu yang palsu.
Flash Fiction by Devi Octaviani
(Akan Menjadi Kisah Nyata)
Inget juga kan waktu aku sok-sokan bereksperimen di dapur bikin resep baru dengan cara modifikasi es krim, buah strawberry, roti tawar, dan segala macem bahan gak jelas? Dapur rumah kamu berantakan. Tapi hasil eksperimenku kamu bilang enak!
Heem… Aku curiga. Kamu jujur atau cuma nyenengin aku ya? Hehehe…
Inget juga nggak waktu aku ngambek, jurus terampuh kamu adalah peluk aku dari belakang terus ngasih es krim vanilla kesukaan aku? Sambil bilang, “Nih liat, es krim vanilla kayak gini aja manis banget kalo dimakan. Masa kamu kalah manis sih? Cemberut ngambek gitu. Jelek ah!”
Duuuuh….. Gimana aku gak luluh coba. Saat itu aku cuma bisa cubit dan pukul kamu. Uuuuh…sebel! Tapi entah kenapa rasa sayang dan cintaku terus bertambah.
Ohya, inget nggak waktu motor kamu mogok pas jemput aku pulang sekolah? Aku kesel, bĂȘte, sebel campur aduk jadi satu. Gimana nggak kesel coba, udah siang hari bolong, panas-panas, motor mogok dan aku suruh dorong juga gitu??
Kamu dengan sabarnya bilang, “Yaudah sayang kamu tunggu di warung itu. Beli es krim vanilla ya biar ademan dikit, biar ngomelnya ilang juga. Biar aku yang dorong motor cari bengkel nanti aku jemput lagi disini”
Aku nurutin perkataan kamu, walaupun bete.
Inget kan waktu kita liburan ke Pulau Seribu.
Kita duduk berdua menikmati senja ditepi pantai, kamu genggam tangan aku, menatap mataku lalu bilang, “Aku harap kamu sabar nunggu aku mapan dan ngelamar kamu. Aku janji secepatnya bakal balik ke Jakarta dengan kerjaan yang bagus, ngelamar kamu dan nikah. Luar kota ga seberapa jauh dibanding luar negeri. Aku janji.”
Aku cuma bisa tersenyum kecil dan mengangguk. Kamu cium kening aku dan tanpa kamu tahu airmataku menetes karena nggak rela ngelepas kamu pergi.
Sekarang, aku ada disini.
Di depanmu.
Bukan untuk tersenyum bahagia mengucapkan ‘janji bahagia’ sehidup semati.
Tapi untuk tersenyum pahit mengucapkan ‘selamat berbahagia’ untuk dirimu dan juga istrimu.
Ya. Istrimu.
Dia.
Wanita lain yang baru kau kenal satu bulan, yang tentu saja bukan diriku.
Karena kini, tak ada lagi KITA seperti dulu.
Ingin rasanya aku cepat-cepat pergi dari tempat itu. Berusaha pergi tanpa derai airmata lagi. Menghapus kenangan akan janjimu yang palsu.
Flash Fiction by Devi Octaviani
(Akan Menjadi Kisah Nyata)
Langganan:
Komentar (Atom)
