Jumat, 11 Oktober 2013

You only life once

Hidup itu kumpulan dari rutinitas yang berjalan itu-itu aja dari hari Senin sampai Minggu. Saking penuhnya sama rutinitas, kita kadang suka terjebak di dalamnya. Malah seringnya nggak sadar kalau udah terjebak hal-hal monoton, yang melabeli hidup kita. Kayaknya udah jadi path umum gitu. Kita abis sekolah, musti kuliah. Sehabis itu ya kerja, lalu cari pasangan dan menikah. Setelahnya mengurus satu anak yang bisa dilanjutkan menjadi dua, tiga, dan seterusnya. Lalu, udah gitu kita akan menunggu hari tua sambil leyeh-leyeh di gaji pensiunan kita. Kemudian mengecup selamat tinggal pada kehidupan. You end up there. And world will forget you soon. Gambar dari sini Saya suka gemes sama orang macem gini. Yang jalan hidupnya ngikutin alur aman yang saya sebutin di atas. Mereka menjalai hidup yang sama dengan dominasi orang di Bumi, lalu dunia juga nggak akan mau repot-repot mengenal mereka. Satu sih yang pengen saya tanyain sama orang kayak gitu : Udah puas hidup gitu-gitu aja? Hidup tuh cuma sekali, dan nggak seperti permainan di Android yang bisa diresume, reset, dan menunggu tambahan nyawa untuk mengulang usaha kita. Kita cuma dikasih kesempatan sekali untuk tinggal di antara populasi dunia, why don't we create something to make us better person? Bikin karya, bikin Things-I-Should-Do-Before-I-Die-List, tantang diri kamu untuk mencapai sesuatu, dan yang paling penting live the life to the fullest! Nggak pengen apa gitu kamu icip-icip banyak pengalaman di banyak bidang, ketemu sama orang yang berbeda, belajar hal baru yang bikin diri kamu tertantang, memaksakan diri untuk membuat yang lebih dari apa yang udah kamu capai, nggak pengen apa? *pertanyaan ini juga kompatibel ditanyakan pada diri sendiri sih* :P Nah yak, jadi buat kamu yang masih ada di jalur aman, coba cari belokan atau puteran di depan, terus jangan cuma jalan lurus aja, kadang hidup perlu belok-belok atau malah berhenti di pinggir sambil ngopi sembari melihat senja. Have fun with your life!

sesederhana itu....

aku pernah menyukaimu secara sesederhana itu, seperti embun pagi yang merelakan butirannya hilang disapa matahari; seperti aku yang tersenyum kala pertama namaku terasa hangat keluar dari mulutmu. aku pernah merasakan hangatmu secara sesederhana itu, seperti matahari yang mulai meninggi, seperti perasaan nyaman layaknya dipangku bunda atau sekedar bermandi busa ketika lenganmu melingkari bagian belakang tubuhku. aku pernah terbawa percakapan diantara denting waktu secara sesederhana itu, seperti suara hujan di sore hari, seperti senja yang selalu kita harap tak pernah habis, seperti ketika kepala kita bersentuhan dan memulai pembicaraan tentang apa yang terjadi. aku pernah tersenyum secara sesederhana itu, seperti guratan ibu ketika anak perempuannya pulang dari rantau, seperti aku yang mendapati pesan disana kamu rindu. aku pernah tertawa terbahak secara sesederhana itu, seperti murid taman bacaan yang tergelak di atas tumpukan buku, seperti hidungmu yang memerah karena jemariku meninggalkan tanda berisikan kenangan terpatri di sudut kepala. aku pernah menginginkanmu secara sesederhana itu, seperti aliran keringat ayah demi mewujudkan mimpi sepeda anak laki-lakinya, seperti tanganku yang terangkat, jauh sebelum tangan kita menjabat; berdoa untuk sosok seperti kamu. aku pernah merindukan secara sesederhana itu, seperti mata-mata ayu penari Bali menunggu pertunjukkan pada malam sakral, seperti tirai kamar yang terus bergoyang karena mataku begitu awas menunggumu kembali pulang. aku mencintaimu secara sesederhana itu, sayang.. seperti anak bocah yang berlari mengejar kertas melayang, seperti dalang membersihkan debu di sela wayang, aku menyayangimu sesederhana itu, cinta.. seperti para penyair menggores tinta, seperti syahdu pendongeng mengarang cerita. jika tulisan ini terdengar sederhana, mungkin bukan kamu orang yang ku tuju, atau rasa itu belum menghinggapi relung terdalam kalbu. karena hanya cinta, yang sanggup membuat hal sederhana, tampak bermakna. :)