Minggu, 22 September 2013
Tentang Menjaga Perasaan
Saya mungkin mengawali peduli kepada perasaan orang lain sudah amat sangat terlambat. Sebelumnya saya juga termasuk yang main hajar bleh, bodo amat-an, dan gue-gue elo-elo sama orang lain. Sampa kemudian, saya membaca sebuah tulisan entah dimana yang mengatakan bahwa.
Sebelumnya ketika mengucapkan sesuatu, cobalah berkaca terlebih dahulu. Sudah pantaskah kita mengucapkannya?
Pada saat itu, yang terpikir di otak saya cuma se-egois ini:
Ya Elah! Suka-suka gue juga kali mau ngomong apaan! Kenapa jadi ngaca dulu segala siy?!?!
There. Stupid indeed.
Tapi waktu berlalu, saya pun berganti teman. Saya belajar bahwa karakter, tidak bisa diubah. Itu sudah settingan unik dari Allah yang dibuat khusus untuk manusia tersebut. Beda dengan tabiat, ya. Menurut saya kita bisa melatih tabiat kita hingga lebih baik lagi. Lebih disukai orang. Lebih sabar. Lebih positif.
Kemarin ini saya semacam ingin ketawa. Separuh sebel, separuh pengen jambak tuh orang, dan separuh lagi juga pengen ngaca *tetep*
Gak gimana-gimana siy, saya juga kan gak kepengen udahlah capek-capek kasih komentar, gak taunya saya juga lebih busuk dari kelakuan orang itu. Iyah, belakangan saya sadar kasih komentar itu capek lo. Terlebih lagi jika gak ada seorang pun yang meminta kita berkomentar. Kontribusi yang percuma, kan?
Saya gatel banget pengen menceritakan detail, gambaran, kejadian, pokoknya segala perintilannya juga.
Tapi buat apa? :p Yang ada saya juga yang jatuhnya ngejelekin orang. Walaupun pada kenyataannya tuh orang udah jelek, ya. Tapi gak usah jugalah saya bahas rinci disini *dibakar massa*
Okay, inti gak penting dari tulisan saya kali ini cuma satu.
It is easy saying that i am a bitch and nothing you can do about it. Or probably by simply saying, i am brutally honest kind a person. So be aware!
But at the end of the day, kita hidup tidak sendiri. Ada banyak orang disekitar kita yang akan berinteraksi dengan kita, yang juga bukan cuma membutuhkan kita tapi terlebih lagi kita yang membutuhkan dia.
Ada bagusnyalah, mencamkan segala sesuatu yang ingin kita ucapkan. Jangan sampe pengen komentar ke orang, ujung-ujungnya malah situ sendiri yang kena, seperti kejadian di bawah ini.
“Astaga tuh perempuan, mulutnya lemes bangetttt, udah kayak petasan banting! Pedes!”
Saya, yang notabene mendengarkan sambil lalu cuma berkata.
“Situ hebat bener. Udah pernah makan petasan banting, ya? Sampe segitu taunya kalo rasanya pedes…”
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar